SEJARAH PERANG UHUD
Pendahuluan
Acara sekarang, terlihat karena sudah lewat. Sejarah memainkan peran besar dalam kehidupan. Dengan sejarah, hidup menghindari kesalahan yang sama yang terjadi di masa lalu. Karena mereka mengetahui peristiwa yang telah terjadi dan memperhitungkannya saat membuat keputusan dalam hidup.
Al-Qur'an sendiri mencantumkan banyak jenis sejarah dalam ayat-ayatnya. Sejarah berisi kisah-kisah orang-orang terdahulu. Berawal dari kisah penciptaan nenek moyang bangsa kita, yaitu nabi Adam dan Hawa, sepanjang sejarah, tujuannya tidak lain adalah agar manusia berpikir dan menjadi makhluk Tuhan yang sempurna.
Kisah Perang dalam Al-Qur'an dan Buku Sejarah Islam. Perang pertama yang sangat menentukan masa depan Negara Islam adalah Perang Badr. Perang antara kaum muslimin dan kaum musyrik Quraisy, Ramadhan ke-8 tahun ke-2 Hijriah, Nabi meninggalkan kota dengan 305 kaum muslimin dengan perlengkapan pokok, pasukan Quraisy terdiri dari sekitar 900-1000 orang. Nabi sendiri yang memerintahkan. Orang-orang Muslim merasa takut dan gemetar ketika mereka melihat bahwa jumlah mereka terlalu sedikit untuk menghadapi bahaya yang tidak mereka perkirakan sebelumnya dan mereka tidak cukup siap.(Sejarah Perang Uhuud, n.d.)
Namun umat Islam meraih kemenangan yang mengesankan dalam Perang Badar, yang disaksikan oleh semua negara Arab. Sebaliknya, sebagai pihak yang kalah dalam peperangan, kaum kafir Quraisy mengalami kerugian besar dan harga diri mereka tercoreng. Salah satu pihak yang turut merusak harga dirinya adalah juga kelompok Yahudi. Setelah kemenangan Muslim di Perang Badar, kebencian dan kemarahan orang-orang Yahudi tumbuh dan meningkat.
Perang Uhud adalah salah satu Perang besar yang terjadi antara Kaum Kafir Quraisy Mekkah melawan Kaum Muslim Madinah yang langsung di Pimpin oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Perang Uhud pecah pada 7 Syawal 3 Hijriah, 3 tahun setelah Baginda Nabi Muhammad SAW pindah dari Mekkah menuju Madinah, dan satu tahun lebih seminggu setelah Perang Badar, atau jatuh pada hari Sabtu, tanggal 23 Maret 625 M. tentara Kaum Muslim Madinah yang dipimpin oleh Baginda Nabi Muhammad SAW pada saat itu berjumlah 1000 orang, yang dipimpin langsung oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, serta ada Ali bin abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Jubair, Mundzir bin Amr, Zubair bin Aeeam, dan Ubadah bin ash-Shamut. namun didalam itu ada orang-orang yang berbelot dari barisam Kaum Muslimin yang dihasut oleh Abdullah, pimpinan kaum munafik dari Madinah, sehingga 300 orang yang saat itu menjadi pasukan Kaum Muslim mundur dari medan Peperangan, sehingga membuat pasukan Kaum Muslim di perang Uhud hanya berjumlah 700 orang. Sebaliknya, pasukan Kaum Kafir Quraisy Mekkah yang saat itu dipimpin langsung oleh Abu Sofyan, lalu ada Hindun binti Utbah, ada Ikrimah bin Abu Jahal. Dan Panglima Perangnyam Khalid bin Walid berjumlah 3.00 orang, yang terdiri dari 200 pasukan berkuda, 700 pasukan unta, dan sisanya adalah pemanah serja pasukan pejalan kaki (infanteri).
Pembahasan
Kondisi sebelum Peperangan
Sebelum Perang Uhud, karena kemenangan di Perang Badar, umat Islam menguasai semua jalur perdagangan dari Mekkah ke Syam dan Irak. Mereka memutus jalur perdagangan para loyalis Quraisy Mekkah menuju Syam dan Irak, mencegah mereka melewati jalur tersebut. Satu-satunya jalan yang tersisa bagi kaum Quraisy adalah dari Mekkah ke Habasyah. Pada masa ini, Madinah juga digunakan sebagai ibu kota dan daerah dakwah yang aman, serta pangkalan militer pasukan Muslim.
Di sisi lain, pasukan Kafir Quraisy Mekkah mengumpulkan kekayaan mereka dari perdagangan untuk kemudian digunakan untuk menyewa senjata, perbekalan, dan tentara dalam jumlah besar. Kumpulan harta itu diserahkan seluruhnya kepada Abu Sofyan bin Harb. Sedangkan kaum musyrik di sekitar Madinah memutuskan untuk tidak ikut berperang untuk tetap tinggal di kota Madinah.(Muhammad & Suliaman, n.d.)
Setelah persiapan dana, amunisi dan pasukan, akhirnya genap setahun, persiapan kaum kafir Quraisy Mekkah benar-benar matang. Suku, suku kecil berkumpul, setidaknya tiga ribu orang. Para pemimpin berpikir untuk hadir bersama istri dan anak-anak mereka, mereka pikir mereka dapat mengangkat semangat mereka, ada lima belas wanita yang terlibat.
Untuk pasukan pengangkut, Pasukan Kafir Quraisy Mekkah mengerahkan sejumlah tiga ribu ekor unta, selain sebagai alat transportasi, unta-unta itu juga dapat dimakan di tengah perjalanan dan pada saat situasi peperangan. Penunggang kuda sebanyak tiga ratus, yang disebar sepanjang perjalanan dari Mekkah ke Madinah, untuk mengawal pasukan besar Kaum Kafir Quraisy Mekkah. Pasukan yang dilengkapi dengan Baju besi ada tuju ratus orang, dengan komando tertinggi ada pada Abu Sofyan bin Harb, dan panglima Pasukan berkuda diserahkan kepada Khalid bin Walid dengan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai asistennya. Untuk bendera perang sendiri diserahkan kepada Bani Abdul Dar. Dengan hati yang bergolak karena dipenuhi dendam terhadap Kaum Muslimin Madinah dari kekalahan pada Perang Badar. Setelah dirasa persiapan sudah mencukupi, Pasukan Perang Kaum Kafir Quraisy ahirnya bergerak dari Mekkah menuju Kota Madinah.
Pada saat yang sama, umat Islam Madinah memiliki mata-mata yang menetap di Mekkah, yaitu Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Abbas terus memata-matai setiap gerak-gerik kaum Quraisy Mekkah yang tidak setia dalam segala hal yang mereka lakukan. Serta pelatihan militer mereka. Ketika pasukan Kafir Quraisy Mekkah mulai meninggalkan Makkah dan menuju kota Madinah, Al-Abbas segera mengirimkan pesan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang merinci kabar tentang pasukan Quraisy tersebut. Utusan al-Abbas segera mulai menyampaikan pesan al-Abbas dari Mekah ke Madinah, yang ia tempuh hanya dalam waktu tiga hari. Surat tersebut sampai kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau sedang berada di Masjid Quba. Dia memerintahkan Ubay bin Ka'ab untuk membaca surat itu dan menyuruhnya merahasiakannya. Tak lama kemudian, ia segera kembali ke Madinah dan membawa isi pesan tersebut kepada para pemimpin Muhajirin dan Ansar untuk dibicarakan bersama.
Tentara Quraisy dari Mekkah bergerak menuju kota Madinah dan mengambil jalur utama ke barat menuju Madinah. Berhari-hari menempuh perjalanan, hingga akhirnya kaum Quraisy-Kafir Mekkah tiba di dekat Madinah pada hari Jumat 6 Syawal 3H, lebih tepatnya di dekat bukit Uhud, tepat di tempat yang disebutkan oleh Ainainy di sebelah utara Madinah. Di bawah komando langsung Baginda Nabi Muhammad SAW, pasukan muslimin di Madinah terdiri dari 700 orang yang terbagi dalam infanteri dan kavaleri (pemanah). Jumlah total infanteri adalah 650 orang. Jumlah total kavaleri adalah 50 orang. Padahal tentara kaum musyrik berjumlah 3000 orang. Hingga 2.800 orang dari suku Quraisy dan sekutunya. Meski 200 pasukan kavaleri itu dipimpin langsung oleh Khalid bin Walid yang berasal dari suku Quraisy. Sebanyak 700 orang mengenakan baju besi. Tentara Mushyrikin dipersenjatai dengan 200 kuda dan 3000 unta. Pemimpin mereka adalah Abu Sofian bin Harb. Para istri kepala suku Quraisy juga ikut bergabung dalam tim ini.
Para prajurit Quraisy Kafir dari Mekkah berkumpul di desa Ash-Shamghah, yang tidak jauh dari kota Madinah. Kelompok itu melepaskan unta dan kuda untuk merumput di ladang kaum Ansar. Setelah itu, perjalanan mereka dilanjutkan ke Al-Aqiq. Kemudian mereka berhenti di kaki Gunung Uhud. Jarak dari kota Madinah hanya 5 mil. Pasukan Musyrikin terbagi menjadi pasukan sayap kanan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan pasukan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Panji Perang dibawa oleh Thalhan bin Abi Thalhah dari Bani Abdul Dar. Urutan kekuatan kekuatan politeistik sederhana. Keamanan barisan diatur oleh kavaleri kiri dan kanan.
Perang dimulai dengan perang balasan setelah kaum muslimin menghadapi tentara Quraisy, kemudian seorang prajurit Quraisy bergabung dengan barisan mereka untuk menantang Nabi Muhammad SAW di atas unta. Mendengar tantangan itu, sahabat Zubair melompat dari kudanya untuk menghadapi tantangan pasukan Quraisy. Dalam perang balasan pertama itu, Zubair berhasil membunuh seorang pahlawan Quraisy dan dia kembali ke barisan tentara Muslim. Kemudian pahlawan Quraisy Talha bin Abi Talhah keluar dari barisan. Dia kembali menantang umat Islam. Ali bin Abi Thalib menghadapi tantangan. Ali bin Abi Thalib pun berhasil mengalahkan dan membunuh Thalhah. Perang balasan ini dilakukan dua belas kali. Dengan gugurnya para pahlawan dan pemimpin Quraisy, pasukan Kafir Quraisy semakin berserakan dan semakin bersemangat untuk melancarkan perang terbuka.
Setelah counter war, perang yang seharusnya dimulai dengan unit kavaleri menyerang posisi Nabi Muhammad tidak dilakukan karena pemanah Muslim akan memukul mundur mereka. Kemudian pembawa panji tentara Quraisy maju dan kaum muslimin segera mengepung panji tersebut. Untuk mempertahankan bendera, tentara Quraisy yang tidak setia harus mengorbankan sembilan orang prajuritnya. Namun, pasukan infanteri Mekkah membawa pergi bendera ketika Nabi Muhammad SAW dan tentaranya hampir mengalahkan pasukan musuh.
Para istri para pemimpin Kafir Quraisy terus menyemangati barisan pasukan Kafir Quraisy. Mereka dipimpin oleh istri Hindu Abu Sofyan. Masing-masing dari mereka menabuh rebana dan genderang sambil membacakan syair atau syair untuk mengobarkan semangat para prajurit dan menggembirakan hati prajurit mereka dalam perang.
Pada pertempuran ini, kemenangan pasukan Islam sudah mulai terlihat, meskipun perang masih sedang berlangsung. Ini terlihat dari sebagian pasukan tentara musuh yang melarikan diri dari medan perang. Melihat pertempuran akan berakhir, barisan pemanah pasukan Muslim Madinah meninggalkan posisi-posisi mereka, untuk mengambil harta rampasan perang karena mereka menyangka bahwa peperangan telah berakhir dan pasukan Islam berhasil mengalahkan tentara Kafir Quraisy Mekkah.
Abdullah ibn Jubair, yang ditugaskan Nabi Muhammad untuk memimpin pasukan pemanah, telah memperingati mereka untuk mentaati pesan Nabi Muhammad yang telah diamanatkan kepada mereka. Akan tetapi, mereka tidak menghiraukan bahkan mereka segera bergegas untuk memburu harta rampasan perang. Kesalahan yang dilakukan oleh pasukan pemanah, memberikan kesempatan kepada Khalid bin Walid, yang menanti agar pasukan pemanah meluangkan jalan baginya dan pasukan kavaleri untuk berputar dan memukul mundur pasukan Islam dari belakang. Kesempatan ini digunakan Khalid untuk menyerang pasukan islam dari belakang. Serangan ini membuat kekacauan dan panik pasukan islam. Pasukan kavaleri yang di pimpin oleh Khalid bin Walid mampu menembus rapatnya pertahanan pasukan Islam yang di pimpin oleh Nabi Muhammad SAW, membuat banyak dari oasukan Islam yang syahid.
Kebingungan ini terjadi dalam pasukan Islam karena serangan mendadak yang dilakukan oleh Khalid. Terlebih lagi ketika terdengar seriakan Qam’ah yang menyatakan Nabi telah terbunuh. Namun, Nabi Muhammad SAW sendiri tidak terbunuh dalam serangan tersebut, tetapi selama beberapan saat terjadi pertempuran satu lawan satu disekelilingnya. Teriakan Qam’ah juga mengakibatkan pasukan Islam menjadi tiga golongan, yaitu; 1, golongan yang melarikan diri ke sebuah tempat pertahanandi madinah. 2, golongan yang masih tetap bertempur dengan semangat yang membaja. 3, golongan orang yang masih mempertahankan dan mendampingi Nabi yang berjumlah 14 orang. Pasukan Quraisy terus memerangi pasukan Islam karena mereka ingin menuntut balas kematian dari pemuka mereka yang tewas di perang badar, bahkan mereka menginginkan kematian pasukan Islam jauh lebih besar dari jumlah mereka yang meninggal di perang badar.
Golongan yang ketigalah yang melindungi Nabi dari serangan pasukan Kafir Quraisy. Kemudian Nabi memerintah pasukan Islam untuk berkumpul di sekelilingnya. Akhirnya ia dan sekelompok sahabat mencapai lereng bukit. Disini pasukan Islam berkumpul dan diberi komando untuk bertahan. Namun, sebagian pasukan yang telah terpisah dari pasukan utama telah mendapai sebuah benteng yang lebih dekat ke pusat kota Madinah.
Pasukan islam yang terdesak terus melindungi Nabi Usman bin Abdullah, salah satu pemuka Quraisy, mencoba untuk menerobos pertahanan Islam. Namun, berhasil dihadang oleh Hars ibn Samah. Dia pun dapat dihadang oleh Hars. Ubaidillah mencoba untuk menolong Usman yang tak berdaya juga tidak sanggup melawan Hars. Setelah pemimpin mereka menimbang dan memandang keadaan medan pertempuran, bahwa pasukan Islam mampu mengimbangi lagi pasukan Quraisy, maka pemimpin mereka mengatur pasukannya untuk mengundurkan diri dari medan pertempuran. Penarikan pasukan yang diperintah oleh Abu Sofyan membuat intensitas serangan berkurang dan tidak beberapa lama berselang pasukan Quraisy tidak lagi menyerang baris pertahanan pasukan Islam.
Setelah peperangan berhenti, pasukan Islam masih tetap bertahan di bukit Uhud. Ini untuk memastikan bahwa pasukan Quraisy benar-benar telah kembali ke Mekkah. Peperangan ini berakhir dengan syahidnya 70 orang islam. Sementara dari pasukan Quraisy meninggal 23 orang.
Nabi juga tidak membentak dan memarahi pasukan pemanah yang meninggalkan posisi pertahanan pasukan Muslim setelah peperangan usai. Ia hanya memberikan nasihat dan memperlihatkan kesabarannya, agar para sahabat untuk tabah dan selalu mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.
Nabi pemperlihatkan akhlak yang mulia kepada para sahabat. Dia menyadari bahwa pasukan pemanah tersebut juga telah lelah dalam peperangan melawan pasukan Quraisy tersebut. Sikap nabi tersebut membuat semua perasaan para sahabat tidak bersalah hanya saja mereka merasakan harus lebih berhati-hati dan mengikuti komando dan amanah yang telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada mereka
Setelah pasukan Quraisy kembali ke Mekkah, Nabi melihat pasukan Quraisy mempermalukan Orang-orang Islam yang syahid dengan sadis dan kejam. Terlebih lagi terhadap paman Nabi, Hamzah ibn Abdul Muthalib, dimana pasukan Quraisy mengoyakkan perutnya, mengeluarkan isi perut dan mengambil hati Hamzah. Melihat perlakuan ini Nabi marah dan hendak memperlakukan yang sama jika memperoleh kemenangan di peperangan berikutnya. Karena kesedihan hatinya, sampai air matanya bercucuran. Allah memberi peringatan kepada Nabi untuk bersikap sabar. Ini dijelaskan dalam Alquran surah Al-Nahl ayat 126-128.
Keadaan ini menjadikan perasaan ingin balas dendam berubah menjadi lemah-lembut, kemudian Nabi memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan Syuhada di dekat Hamzah untuk di Shalatkan. Kemudian nabi memerintahkan memakamkan. Setetelah dimakamkan Nabi dan para sahabatnya kembali ke Madinah. Perang Uhud memberikan pelajarang yang berarti bagi 0rang-orang Islam kelalaian mereka menjadikan pelajaran yang berharga dalam kehidupan mereka untuk senantiasa mentaati Allah dan Nbi-Nya.
Kepemimpinan Nabi sebelum, dalam dan pasca perang Uhud.
Salah satu faktor keberhasilan Nabi ketika memerintah di Madinah karena dia memegang penuh kendali Spiritual dan temporal power. Namun, meskipun memegang penuh dua kendali tersebut, tidak semua keputusan dia putuskan sendiri. Dia juga mengadakan musyawarah untuk menentukan keputusan tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan.
Ketika Nabi mendapatkan surat dari pamannya ‘Abbas ibn ‘Abd Muthalib tentang keberangkatan pasukan Quraisy ke Madinah, Nabi tidak langsung menentukan tindakan yang akan dilakukan secara sepihak. Dia bermusyawarah dengan para sahabatnya meskipun ia memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan sikap. Suara yang terbanyak yang diperoleh dalam kesepakatan tersebut menjadi tindakan yang akan dilakukan untuk merespon pasukan Quraisy yang akan menyerang orang-orang Islam di Madinah. Nabi sendiri berkeinginan melawan pasukan Quraisy di dalam kota Madinah. Namun, suara terbanyak perlawanan terhadap Quraisy akan dilakukan di luar kota Madinah. Kesepakatan inilah menjadi pilihan yang akan dilakukan oleh pasukan Islam. Nabi menampak sikap yang tidak egois dan gegabah dalam menentukan sikap yang akan dilakukan sebelum peperangan Uhud terjadi. Mufakat suara terbanyak ini menjadi keputusan Nabi yang menandai bahwa dia sangat menghargai keputusan sahabat-sahabatnya itu.(Dr. Aksan, 2020)
Nabi juga menunjukkan bahwa dia adalah pang lima yang memiliki kepribadian dan komitmen yang teguh. Setelah ia memegang pada keputusan yang baru dan menyatakan bahwa “Ketka seorang Nabi telah memakai baju besi, maka dia tidak boleh melepaskan lagi sampai Tuhan membuat keputusan antara dia dan musuhnya
Nabi telah menyiapkan agen-agen pengintai yang telah tahu seluk-beluk Madinah dan daerah-daerah yang ada di sekelilingnya untuk memastikan gerak-gerik musuh. Setelah ia mendapat berita bahwa pasukan Quraisy telah sampai pada kaki Uhud. Untuk memantau dan memastikan kedatangan pasukan Quraisy, Nabi mengutuskan dua orang sabahat untuk mengetahui semua perbuatan mereka. Ketika mereka kembali dan memberikan laporan kepada Nabi, Ia menyuruh Hubab ibn Munzir untuk menyelidiki lebih jauh gerak gerik pasukan Quraisy. Maka, setelah ia melaporkan hasil pengintaiannya kepada Nabi. Untuk ketiga kalinya, Nabi mengutus Salamah ibn Salamah untuk melakukan pengintaian sekali lagi. Setalah kembali ia melaporkan bahwa mereka melihat pasukan berkuda Quraisy.(Habibi et al., 2020) Kehati-hatian Nabi dalam menentukan apa yang akan dilakuakan adalah untuk menerapkan dan memposisikan pasukan yang pas pada posisinya untuk menahan laju gerakan musuh yang jumlahnya lebih banyak dari pasukan Islam. Pengintaian ini juga dilakukan untuk mendapatkan informasi yang falid tentang dan posisi musuh yang akan dilawan. Nabi tidak hanya menunggu wahyu dan perintah dari Allah, tetapi dia juga telah memetakan dan mengetahui kondisi geografis Madinah dan daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Ketika wahyu tidak diturunkan dengan melihat kondisi yang ada, ia memutuskan apa yang akan dilakukan oleh pasukan Islam.
Sebelum berangkat Nabi menimbang dan memperkirakan jika pasukan Islam kalah dalam peperangan tersebut. Ia telah memerintahkan komando pasukan di kota Madinah kepada Abdullah ibn Maktum. Ia juga telah mendirikan sebuah benteng pertahan terakhir di dekat kota Madinah. Benteng inilah kemudian yang menjadi tempat pertahanan Usman ibn Affan, Walid ibn Uqbah, Kharijah ibn Zaid dan Rifa’ah ibn Ma’la ketika mereka menyelamatkan diri di saat pasukan kavaleri Kholid menyerang pasukan Islam. Di mana serangan pasukan Khalid tersebut mengakibatkan kebingungan pasukan Islam pada waktu itu
Ketika pasukan Islam hanya menyisakan 700 orang, setelah Abdullah ibn Ubay membelot bersama 300 orang munafik memutus kembali ke Makkah. Pembelotan ini terjadi sebelum terjadinya pertempuran antara pasukan Islam dan tentara Quraisy. Dengan pembelotan tersebut timbullah perselisihan dalam pasukan Islam untuk memerangi orang-orang munafik terlebih dahulu dan membiarkan saja mereka kembali ke Madinah. Allah berfirman kepada Nabi, Agar ia membiarkan saja mereka kembali ke Madinah. Dengan jumlah yang sedikit ini, Nabi telah memutuskan untuk menghadapi musuh di balik gunung Uhud. Dengan demikian musuh berada di antara mereka dan pemukiman utama Madinah. Jika pasukan Islam memerangi para pengikut Abdullah ibn Ubay terlebih dahulu, mereka telah menghabiskan tenaga mereka sebelum melawan musuh utama Quraisy. Namun, Nabi dengan cerdik memanfaatkan tersiarnya kabar pembelotan tersebut, karena ia juga telah membuat pertahanan di dekat kota Madinah. Pasukan Quraisy, yang berada di antara pasukan utama yang dipimpin oleh Nabi dengan benteng pertahanan di dekat Madinah, justru merasa terkepung, karena mereka khuatir jika mereka menyerang dari belakang. Pembiaran para pembelot tersebut diduga oleh pasukan Quraisy sebagai salah satu taktik yang diterapkan Nabi untuk menyerang pasukan Quraisy. Benteng ini Nabi jadikan benteng terakhir untuk mempertahankan kota Madinah dari pasukan Quraisy, jika Nabi terbunuh dan pasukan Islam mengalami kekalahan dalam perang yang akan mereka hadapi di bukit Uhud.
Nabi telah mengetahui kondisi geografis kaki bukit Uhud yang menjadi tempat perkemahan pasukan Quraisy. Ketika ia sudah mendekati musuh, ia memposisikan pasukan Islam pada tempatnya masing-masing. Ia menempatkan 50 orang pemanah yang dipimpin oleh Abdullah ibn Jabir untuk menutupi laju pasuka pergerakan pasukan berkuda Quraisy, karena ia memperkirakan sewaktu-waktu pasukan berkuda Quraisy dapat memutar jalannya masuk dari sisi ini dan menyerang pasukan Islam dari belakang. Ada juga yang mengatakan bahwa Nabi memposisikan 50 pasukan pemanah di bukit Ainain. Penempatan pasukan ini selain untuk mencegah serangan pasukan kavaleri Quraisy dari belakang, juga untuk mencegah serangan awal dengan pasukan kavaleri. Jika Quraisy melakukan serangan awal dengan pasukan kavalerinya, maka pasukan pemanah Islam tersebut dapat menghalanginya untuk sampai pada pasukan Islam. Selain itu, taktik ini dilakun untuk mencegah terjadinya peperangan secara terbuka di mana mereka akan mengawalinya dengan serangan kavaleri, karena jumlah pasukan mereka empat kali lipat lebih banyak dari pasukan Islam, dan dapat menerobosan barisan pertahanan pasukan Islam. Jika pasukan Islam melakukan peperangan diawali dengan perangang terbuka, maka pasukan Islam akan mengalami kesulitan melawan pasukan musuh yang jumlahnya lebih banyak dari pasukan mereka
Untuk menjaga pergerakan pasukan kavaleri musuh, Nabi juga telah menunjukkan Zaid sebagai komandonya yang bertugas menjaga jalur kecil yang menghubungkan Uhud dan Ainain untuk mencegah serangan musuh dari belakang terhadap pasukan utama Islam. Dengan menempatkan pasukan pemanah dan pasukan koordinasi antara Uhud dan Ainain hampir bisa dipastikan bahwa pasukan kavaleri Quraisy tidak memeliki ruang gerak untuk menerobos dan menyerang pasukan Islam. Taktik perang yang di terapakan oleh Nabi, mampu melumpuhkan pergerakan pasukan kavaleri Quraisy. Pasukan kavaleri Quraisy ini pada awalnya tidak terlalu banyak memberikan kontribusi dalam serangan mereka terhadap pasukan Islam. Namun, setelah pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, barulah mereka memiliki keleluasaan untuk menerobos dan menyerang pasukan Islam dari sisi balik gunung Uhud.
Untuk menghidari kemungkinan terburuk jika pasukan yang dipimpinnya kalah dalam peperangan ini, Nabi telah mempertimbangkan suatu tempat yang berguna untuk mempertahankan diri jika sesuatu yang tidak dinginkan terjadi. Posisi di Uhud masih memilki keunggulan untuk bertahan yang dilihat oleh Nabi ketika pertama kali memilih lokasi itu. Nabi juga telah memperkirakan benteng terakhir bagi pasukan Islam jika mereka semakin terdesak di Uhud. Prediksi ini terbukti sebagai benteng pertahan terakhir ketika pasukan Quraisy yang terus mendesak dan korban dari pasukan Islam sudah banyak. Ketika dia memerintah seluruh pasukan Islam berkumpul di tempat tersebut, pasukan Islam mulai tersusun rapi kembali dan menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Dengan berkumpulnya pasukan di sana, pasukan kavaleri Quraisy pun tidak mampu menembus barisan pasukan Islam. Bahkan, pasukan Islam mulai mampu untuk mengimbangi pasukan Quraisy. Melihat strategi, penempatan dan pemataan wilayah yang di terapkan Nabi, dia merupakan orang yang hati-hati dan cerdik membaca situasi. Dengan kepiawaiannya dalam berperang, ia mampu untuk menahan serang musuh yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah mereka. Dari sisi kemiliteran, jumlah Nabi tersebut sudah bisa dipastikan dapat dikalah oleh musuhnya. Namun dengan kecerdasannya, Nabi juga mampu melawan tantangan pasukan Quraisy.
Pasca tejadinya perang Uhud, keadaan kota Madinah menegalami perkembangan yang tidak baik. Nabi membentuk penjagaan malam dan dia sendiri sering melakukan pengintaian di sekeliling kota Madinah. dia juga mengadakan pengaturan yang khusus untuk patroli dan ekspedisi dengan tujuan: 1) mengetahui perkembangan dalam dan sekitar kota Madinah, 2) membuat garis pertahanan depan untuk menghadapi serangan mendadak dari luar atau pengkhianatan dalam kota, 3) untuk menggertak penduduk disekeliling bahwa Islam mampu menjaga stabilitas keadaan wilayahnya, 4) untuk mengembalikan kewibawaan yang telah hilang. Dalam pelaksanaan tugas ini Nabi sering meninjau langsung keadaan kota Madinah dan daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Tindakan ini Nabi lakukan untuk memberikan rasa aman kepada penduduk Madinah bahwa Madinah aman dari serangan dan telah siap menghadapi serangan dadakan dari dalam dan luar kota Madinah jika sewaktu-waktu serangan terjadi secara mendadak.
Ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad merupakan sosok komando militer yang lihai dalam mengatur strategi perang. Keterbatasan pasukan dan kemampuan pasukan yang ia miliki mampu dimaksimalkan dengan strategi perang yang ia terapkan. Strategi yang telah ia terapkan mampu menunjukkan legitimasi dan kekuatan umat Islam. Islam mampu hadir dengan kekuatan dan strategi militer yang sudah harus memumpuni dan diperhitungkan pada waktu itu
Faktor – Faktor terjadinya Perang Uhud
‘Ali Muhammad al-sallabi dalam bukunya al-sirah al-nabawiyyah menjelaskan bahwa terjadinya Perang Uhud disebabkan oleh empat faktor, yaitu :
Faktor Agama
Perang Uhud bisa terjadi tidak lain tidak bukan karena adanya informasi Allah melalui malaikat jibril yang lalu disampaikan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahwa di Makkah orang-orang Quraisy tengah mengumpulkan Harta sebanyak-banyaknya untuk bisa menghimpun kekuatan agar bisa membalaskan dendamnya karena kekalahan dalam Perang Badar. Selain itu, orang-orang quraisy juga ingin memerangi orang-orang yang masuk agama Islam. Mereka juga ingin memerangi semua pengikut Baginda Nabi yang mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan Firman-Nya;
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
“ sesungguhnya orang-orang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi ( orang ) dari jalan Allah. Mereka menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang itu kafir itu akan dikumpulkan”
Firman Allah tersebut menegaskan bahwa faktor agama juga menjadi pemicu serangan pasukan Quraisy melakukan serangan kepada Kaum Muslim, disebabkan kebencian yang begitu besar dari kekalahan perang Badar yang banyak menewaskan tetua-tetua kaum Kafir Quraisy pada waktu itu, menjadi pemicu terbesar terjadinya Perang Uhud. Poin-poin Kafir Quraisy dalam perang ini adalah ingin memerangi, menghalangi, membunuh Baginda Nabi Muhammad SAW, dan mencegah penyebaran agama Islam menjadi tujuan yang paling utama.
Faktor Sosial
Atas kekalahan besar pada Perang Badar yang sangat memalukan bagi kaum Kafir Quraisy Mekkah dan begitu membuat menjatuhkan martabat suku mereka. Munculah aksi menuntut balas kepada Kaum Muslim di Madinah. Setelah Pemimpin-peminpin besar mereka mati, seperti Abu Jahar dan Utbah. Pemuka-pemuka Kafir Quraisy seperti Abd Allah ibn Abi Rabiah, Ikrimah ibn Abi Jahl, al-Haris ibn Hisyam, Shafwan ibn Umayyah, mendatangi Abu Sofyan, mereka bermusyawarah dengan Abu Sofyan mengenai apa yang telah menimpa mereka dan memberikan penjelasan bahwa “Muhammad telah meninggalkan agama mereka”. Memeranginya adalah satu-satunya pilihan, maka kami membutuhkan bantuan untuk menuntut balasan dan memerangi Muhammad”(Perang UHUD.2, n.d.). Abu Sofyan langsung memberikan jawaban bahwa dia adalah orang pertama yang mendanai misi ini
Karena hilangnya kemormatan Kabilah-kabilah Kafir Quraisy disebabkan kekalahannya di Perang Badar menjadi faktor terbesar dalam Aksi balas dendam mereka terhadap Kaum Muslim Madinah, yang nantinya menjadi perang Uhud. Perang ini menjadi cara untuk mengangkat kembali citra dan kehormatan Kabilah-kabilah Kafir Quraisy mekkah yang telah di renggut oleh Kaum Muslim Madinah pada perang Badar.
Faktor Ekonomi
Kota Madinah yang saat itu di pimpin oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, memiliki peranan penting dalam faktor Ekonomi bagi penduduk Mekkah. Karena Madinah adalah daerah lintasan bagi para pedagang penduduk mekkah yang akan pergi menuju syam dan yaman pada waktu itu, para pedagang dari Mekkah jika ingin menuju Syam, haruslah melewati kota Madinah terlebih dahulu
Karena adanya Konflik antara Kabilah-kabilah Kafir Quraisy Mekkah dengan kaum Muslim Madinah, makah perekonomian Mekkah menjadi terganggu dengan adanya kekuatan umat Islam di Madinah.(Habibi et al., 2020)
Kesimpulan
Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam dan terjadi pada tahun 625 Masehi. di kota Madinah di Arab Saudi. Pertempuran ini terjadi antara pasukan muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dan pasukan Quraisy Mekkah yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Perang Uhud menarik kesimpulan penting dari peristiwa ini.
Pertama, Perang Uhud menunjukkan pentingnya persiapan perang yang baik. Sebelum pertempuran dimulai, Nabi Muhammad SAW menyusun strategi dan taktik yang baik untuk menghadapi pasukan Quraisy. Namun kekalahan pasukan muslimin dalam pertempuran ini disebabkan ketidaktaatan sebagian pasukan muslimin terhadap perintah Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan yang matang dan kedisiplinan dalam mengikuti perintah pimpinan merupakan kunci keberhasilan dalam pertempuran.
Kedua, Perang Uhud mengingatkan kita akan pentingnya kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan dan kesulitan. Tentara Muslim awalnya memenangkan pertempuran dan mengusir pasukan Quraisy. Namun, sikap arogan dan ketidakdisiplinan pasukan muslimin saat berburu mangsa justru berujung sebaliknya. Pasukan Quraish berhasil memanfaatkan situasi dan melancarkan serangan balik, menyebabkan kerugian besar bagi pasukan Muslim. Dalam menghadapi cobaan, kesabaran dan tekad penting untuk tetap fokus dan mencapai tujuan yang diinginkan dengan tekad.
Ketiga, Perang Uhud mengajarkan pentingnya persatuan dan solidaritas antar umat Islam. Dalam pertempuran ini ada beberapa pasukan muslimin yang tidak mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW dan menyerahkan posisinya meninggalkan Nabi sendirian. Ini menyebabkan kekalahan tentara Muslim. Acara ini mengajarkan bahwa persatuan dan kerja sama anggota komunitas sangat penting saat menghadapi tantangan dan musuh besar. Persatuan dan solidaritas umat Islam adalah kunci kemenangan dalam perjuangan.
Keempat, Perang Uhud memberikan pelajaran tentang pentingnya merenung dan belajar dari pengalaman masa lalu. Setelah kalah dalam pertempuran, Nabi Muhammad SAW dan tentara Muslim merenungkan kesalahan mereka dan memperbaiki strategi mereka. Mereka belajar dari kesalahan mereka dan menggunakan pengalaman itu sebagai pelajaran berharga untuk pertempuran selanjutnya. Kemampuan untuk merenungkan kegagalan dan belajar dari situasi sulit adalah tanda kebijaksanaan dan kecerdasan.
Pada akhirnya, Perang Uhud menunjukkan keimanan dan kecintaan Muslim yang tak tergoyahkan terhadap Islam. Meski kalah dalam pertempuran, pasukan Muslim tidak menyerah atau kehilangan keyakinan mereka. Mereka tetap teguh dalam iman mereka dan berjuang untuk mempertahankan agama mereka. kasus
