Langsung ke konten utama

Postingan

Menjadi Benar Sendiri: Identitas, Bias, dan Kegagalan Narasi Bersama

Dulu, Indonesia sering dijadikan contoh ideal tentang bagaimana keberagaman bisa dikelola dengan harmonis. Di tengah keragaman suku, agama, budaya, dan bahasa, bangsa ini sempat menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan tidak selalu berarti perpecahan. Justru dari keragaman itulah lahir kekuatan kolektif yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun kini, gambaran itu tampak mulai retak. Bukan karena adanya serangan militer dari luar, bukan pula karena bencana alam besar yang mengguncang negeri. Yang membuat Indonesia perlahan-lahan tergelincir ke dalam jurang perpecahan justru sesuatu yang jauh lebih halus, lebih sunyi , namun tidak kalah mematikan: informasi. Kita hidup di era pasca-transisi digital, dimana hampir setiap aspek kehidupan terhubung melalui jaringan informasi yang kompleks. Setiap individu menjadi bagian dari ekosistem digital yang tidak netral, melainkan dibentuk dan dikurasi oleh algoritma program pintar yang diam-diam mempelajari setiap klik, setiap ke...
Postingan terbaru

Selamat Jalan, Papa Fransiskus: Warisan Toleransi yang Tak Akan Padam

  Aku bukan seorang Katolik. Aku lahir dan besar sebagai seorang Muslim, tumbuh dalam lingkungan yang sangat menjunjung nilai-nilai agama, tapi juga dibentuk oleh pengalaman hidup di tengah masyarakat majemuk. Karena itulah, bagiku, sosok seperti Paus Fransiskus punya tempat tersendiri di hati. Ketika kabar wafatnya beliau datang, aku tidak merasa kehilangan sebagai bagian dari institusi gereja—melainkan sebagai seorang manusia yang tahu, dunia baru saja kehilangan satu suara paling bijak dalam semesta dialog lintas iman. Paus Fransiskus bukan hanya seorang pemimpin agama. Ia adalah simbol keberanian moral di tengah dunia yang semakin bising oleh fanatisme, konflik, dan polarisasi. Dalam banyak pernyataan dan tindakannya, ia selalu menempatkan kasih dan belas kasih sebagai inti dari spiritualitas. Ia berbicara tentang pengungsi seperti keluarga sendiri. Ia memeluk kaum marjinal seperti sahabat lama. Ia tidak malu meminta maaf atas kesalahan institusi, dan tidak ragu menyampaikan ...

"Aku Kecewa: Negara Ini Butuh Pemimpin, Bukan Cuma Pengisi Kursi"

Aku nggak pernah berpikir akan sampai pada titik merasa muak melihat berita tentang pemerintahanku sendiri. Tapi hari demi hari, kekecewaan itu seperti ditumbuhkan secara sengaja. Bukan hanya karena kebijakan yang kadang terasa ngawur, tapi karena orang-orang yang membuat kebijakan itu sering kali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Para menteri yang seharusnya jadi tumpuan justru terlihat seperti tidak mengerti rumah yang sedang mereka rawat. Aku kecewa. Bukan karena mereka manusia biasa yang bisa salah. Tapi karena mereka sering kali bukan orang yang tepat untuk posisi yang mereka duduki. Seolah-olah jabatan menteri hari ini bukan lagi soal kemampuan atau pengalaman, melainkan soal kedekatan, balas budi politik, atau pencitraan. Banyak dari mereka tidak punya rekam jejak di bidang yang mereka pimpin, dan itu terlihat jelas dari cara mereka mengambil keputusan. Bagaimana mungkin menteri pendidikan tak paham dunia pendidikan? Bagaimana mungkin menteri komunikasi gagap dalam hal dig...

Melihat yang Tak Terlihat: Perempuan dan Lomba Kampus yang Maskulin.

Sebagai laki-laki yang aktif di kegiatan kampus, khususnya dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan. aku sering ikut terlibat kepanitiaan dalam berbagai lomba yang diselenggarakan jurusan, mulai dari futsal, Mobile Legends, sampai lomba-lomba yang bersifat fisik dan kompetitif. Tapi makin ke sini, aku mulai sadar ada yang janggal, yang awalnya mungkin tak banyak orang perhatikan: ke mana perempuan? alasan yang pasti menurutku bukan karena mereka tidak mau ikut. Mereka ada, bahkan mereka ikut terlibat menjadi panitia. tapi ketika lomba berlangsung, mereka lebih sering jadi penonton, tim dokumentasi, Suporter, yang menyiapkan Minum dan konsumsi. atau bahkan hanya hadir karena diajak teman saja. Sangat jarang ada perempuan yang betul-betul ikut ambil peran dalam arena Lomba. Dan bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena sistem dan suasananya tidak memberi ruang. aku melihat di kampusku, Lomba-lomba Unggulan yang digelar cenderung sangat maskulin. Futsal hampir selalu dianggap “lombanya cowok”....

Candi Mendut

Candi Mendut adalah salah satu candi Buddha yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak jauh dari kompleks Candi Borobudur. Candi ini diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 Masehi, pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, yang dikenal sebagai pendukung utama agama Buddha di Nusantara. Prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M menyebutkan bahwa Raja Indra dari Wangsa Syailendra membangun sebuah bangunan suci bernama "Venuvana" yang diyakini merujuk pada Candi Mendut. Nama "Venuvana" sendiri berarti "Hutan Bambu," yang mungkin menggambarkan kondisi lingkungan sekitar candi pada saat itu. Candi Mendut memiliki hubungan erat dengan Candi Borobudur dan Candi Pawon, membentuk garis lurus yang diduga memiliki makna spiritual dalam ajaran Buddha Mahayana. Dalam tradisi Buddhis, ketiga candi ini sering dikaitkan dengan perjalanan menuju pencerahan. Candi Mendut dipercaya sebagai tempat awal dalam ritual sebelum umat Buddha melanjutkan perjala...

Gereja Ortodoks di Yogyakarta

Gereja Ortodoks adalah salah satu cabang utama Kekristenan yang memiliki akar sejarah yang panjang, berawal dari gereja perdana yang didirikan oleh para rasul Yesus Kristus. Setelah Kekristenan diakui secara resmi oleh Kaisar Konstantinus melalui Edik Milano pada tahun 313 M, agama ini berkembang pesat di Kekaisaran Romawi. Namun, perpecahan besar dalam Gereja Kristen terjadi pada tahun 1054 M, yang dikenal sebagai Skisma Besar ( Great Schism ), di mana Gereja Barat (Katolik Roma) dan Gereja Timur (Ortodoks) berpisah. Sejak saat itu, Gereja Ortodoks berkembang secara mandiri, dengan pusat utamanya berada di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki). Gereja Ortodoks memiliki struktur kepemimpinan yang berbeda dengan Gereja Katolik Roma. Jika dalam Katolik ada satu pemimpin tertinggi, yaitu Paus di Vatikan, maka dalam Gereja Ortodoks, kepemimpinan bersifat kolegial dan terdiri dari beberapa patriarkat. Patriarkat adalah wilayah gerejawi yang dipimpin oleh seorang patriark. Patriark Konst...

Hindu Hare Krishna bagaimana kita harusnya menyembah Tuhan

Hare Krishna adalah suatu gerakan spiritual yang berasal dari tradisi Hindu, khususnya dari aliran Bhakti Yoga dalam agama Hindu Vaishnavisme. Gerakan ini berpusat pada pengabdian kepada Dewa Krishna sebagai bentuk tertinggi dari Tuhan Yang Maha Esa. Nama "Hare Krishna" sendiri merujuk pada mantra suci yang sering diucapkan oleh para pengikutnya, yaitu Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare . Mantra ini dianggap sebagai sarana utama untuk mencapai kesadaran spiritual tertinggi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ajaran utama Hare Krishna bersumber dari kitab suci Hindu, terutama Bhagavad Gita dan Srimad Bhagavatam , yang mengajarkan pentingnya pengabdian atau bhakti kepada Krishna. Gerakan ini menekankan konsep bhakti-yoga , yakni jalan spiritual yang mengutamakan cinta dan pelayanan tanpa pamrih kepada Tuhan. Para pengikutnya percaya bahwa dengan menyebut nama suci Krishna secara terus-menerus, mereka dapat members...

Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) bagaimana Merespon Kekerasan dengan Ketenangan

  Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) di Yogyakarta merupakan salah satu cabang Ahmadiyah yang berkembang di Indonesia, khususnya berpusat di daerah ini sejak awal abad ke-20. Berbeda dengan Ahmadiyah Qadian yang lebih dikenal di Indonesia, GAI lebih menekankan pendekatan rasional terhadap Islam dengan mengutamakan tafsir Al-Qur'an yang berbasis pada akal dan ilmu pengetahuan. Gerakan ini berakar pada pemikiran Mirza Ghulam Ahmad, seorang reformis Islam dari India yang mengklaim sebagai mujaddid (pembaharu) dalam Islam. Namun, GAI tidak menganggapnya sebagai nabi setelah Nabi Muhammad, melainkan sebagai sosok pembaharu yang menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni. Di Yogyakarta, GAI memiliki pengaruh signifikan dalam bidang pendidikan dan pemikiran keislaman. Organisasi ini mendirikan berbagai lembaga pendidikan yang menekankan pembelajaran Islam yang inklusif, logis, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. salah satunya adalah GAI mendirikan lembaga pendidikan Piri. yang terdi...

Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Rumah Bagi Teman-Teman Transpuan yang berjuang di tengah-tengah diskriminasi

Transpuan adalah istilah yang merujuk pada individu yang terlahir dengan jenis kelamin laki-laki tetapi mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Mereka merupakan bagian dari spektrum transgender, di mana identitas gender mereka tidak sesuai dengan jenis kelamin yang diberikan saat lahir. Dalam banyak kasus, transpuan menjalani berbagai proses sosial, psikologis, atau bahkan medis untuk menyesuaikan diri dengan identitas gender mereka. Namun, seperti individu lainnya, perjalanan hidup transpuan sangat beragam, tergantung pada faktor budaya, sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi mereka. Di Indonesia, keberadaan transpuan sudah lama dikenal, bahkan dalam berbagai budaya Nusantara terdapat peran yang secara historis diisi oleh individu yang kini dapat dikategorikan sebagai transgender. Salah satu contoh adalah bissu di Sulawesi Selatan, yang secara tradisional memiliki peran spiritual dalam masyarakat Bugis. Namun, dalam konteks modern, transpuan sering kali menghadapi diskriminasi dan sti...

Mengendalikan Hasrat Seksual, Belajar dari Para Frater di Seminari Tinggi Santo Paulus. Kentungan, Yogyakarta.

Sebagai Manusia, apalagi yang sudah menginjak dewasa, pastinya kita tidak dapat menghindari munculnya hasrat seksual dalam diri kita.  Hasrat seksual adalah bagian alami dari kehidupan manusia, yang didorong oleh kebutuhan biologis, emosional, dan psikologis. Namun, bagi individu yang belum memiliki pasangan, dorongan ini dapat menjadi tantangan besar. Ketidakseimbangan antara keinginan dan ketidakmampuan untuk menyalurkannya secara sehat dapat menyebabkan stres, rasa frustasi, hingga perasaan kesepian. Dalam beberapa kasus, hasrat seksual yang tidak terpenuhi bisa mengganggu fokus seseorang dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam pekerjaan, studi, maupun interaksi sosial. Hal ini dapat memicu konflik internal, di mana seseorang merasa bersalah atas dorongan yang dialaminya, terutama jika ia hidup dalam lingkungan atau budaya yang membatasi diskusi terbuka tentang seksualitas. Selain itu, jika hasrat seksual dikelola dengan cara yang tidak sehat, hal ini berpotensi mendorong seseor...