Langsung ke konten utama

Selamat Jalan, Papa Fransiskus: Warisan Toleransi yang Tak Akan Padam

 

Aku bukan seorang Katolik. Aku lahir dan besar sebagai seorang Muslim, tumbuh dalam lingkungan yang sangat menjunjung nilai-nilai agama, tapi juga dibentuk oleh pengalaman hidup di tengah masyarakat majemuk. Karena itulah, bagiku, sosok seperti Paus Fransiskus punya tempat tersendiri di hati. Ketika kabar wafatnya beliau datang, aku tidak merasa kehilangan sebagai bagian dari institusi gereja—melainkan sebagai seorang manusia yang tahu, dunia baru saja kehilangan satu suara paling bijak dalam semesta dialog lintas iman.

Paus Fransiskus bukan hanya seorang pemimpin agama. Ia adalah simbol keberanian moral di tengah dunia yang semakin bising oleh fanatisme, konflik, dan polarisasi. Dalam banyak pernyataan dan tindakannya, ia selalu menempatkan kasih dan belas kasih sebagai inti dari spiritualitas. Ia berbicara tentang pengungsi seperti keluarga sendiri. Ia memeluk kaum marjinal seperti sahabat lama. Ia tidak malu meminta maaf atas kesalahan institusi, dan tidak ragu menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan kepada pemimpin dari keyakinan lain—termasuk kepada dunia Islam.

Aku masih ingat bagaimana hangatnya sambutan beliau terhadap komunitas Muslim, dan bagaimana beliau menyerukan penghentian Islamofobia dalam berbagai forum internasional. Paus Fransiskus tidak melihat perbedaan agama sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk belajar, berdialog, dan saling menguatkan. Pernah suatu kali beliau berkata, “Dialog antarpemeluk agama bukanlah pilihan, tetapi kewajiban moral.” Kalimat itu terpatri di pikiranku, dan sejak saat itu aku semakin yakin bahwa kedamaian tidak bisa dibangun dengan menegaskan siapa yang paling benar, tetapi dengan saling mendengar dan memahami.

Ketika dunia sedang terjebak dalam kecurigaan dan pembelahan identitas, Paus Fransiskus justru hadir dengan pendekatan yang sederhana tapi revolusioner—menjadi manusia. Ia menolak mewahnya kendaraan, memilih untuk tinggal di tempat yang lebih sederhana, bahkan dalam pertemuan internasional pun ia membawa pesan yang begitu manusiawi: “Kita semua bersaudara.” Sebagai seorang Muslim yang percaya bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, aku merasakan bahwa nilai-nilai yang beliau bawa sangat selaras dengan prinsip-prinsip dasar agamaku sendiri.

Wafatnya Paus Fransiskus bukan sekadar kehilangan tokoh penting Gereja Katolik. Ini adalah kehilangan untuk dunia. Tapi warisan beliau tidak akan terkubur bersama jasadnya. Ia telah menanamkan benih-benih toleransi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia, tidak hanya dalam tulisan-tulisan keagamaan, tapi dalam praktik nyata. Mulai dari mencium kaki para korban konflik, menyalami pemimpin agama lain, hingga merangkul kaum LGBTQ dan memperjuangkan hak-hak perempuan.

Dan aku percaya, warisan itu bukan hanya tugas bagi para penerusnya di Vatikan. Itu juga tanggung jawab kita—umat Muslim, Hindu, Buddha, Yahudi, Agnostik, atau siapa pun yang ingin hidup damai. Kita punya tugas untuk menjaga semangat toleransi yang telah ia hidupkan: tidak dengan membungkam perbedaan, tapi dengan merayakannya.

Selamat jalan, Paus Fransiskus. Doaku mengiringimu. Dari seorang Muslim yang turut kehilanganmu—dan yang akan terus membawa suaramu dalam ruang-ruang kecil kehidupan sehari-hari. Suara tentang cinta kasih, keberanian untuk berbeda, dan keberanian untuk tetap manusia.

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Saya Membela Hak Orang-orang LGBT?

Oleh :Fadhilrey Kenapa Saya Membela Hak orang-orang LGBT? Opini aku! Karena hal-hal yang menyinggung LGBT sangat sensitif di indonesia, saya menekankan bahwa sudut pandang dan pemikiran saya tentang LGBT ini sama sekali tidak berlandaskan pandangan Agama manapun. Saya tidak memakai pembenaran Agama dalam menyampaikan pandangan ini. jadi jika memang pandangan saya banyak sekali hal yang menyimpang menurut agama, itu murni karena pemahaman Agama saya yang mungkin masih dangkal dan belum luas.  pertama, sebagai seorang muslim, saya sama sekali tidak menganggap perbuatan LGBT adalah hal yang tidak dilarang oleh Hukum Agama. Perbuatan LGBT itu dilarang Oleh Agama Islam. bahkan sejauh yang saya tau ada tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang larangan perbuatan Homoseksual. dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 165-166, lalu dalam surat Al A’raf ayat 80, Surat Al Isra ayat 32, Surat Al A’raf ayat 33, Surat Hud ayat 181, Surat Asy-Syu’ara ayat 173-174, dan di Surat An Naml ayat 55. dari ayat-ay...

Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran?

  Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran? Perbedaan Pandangan Karl Popper dan John Rawls tentang Toleransi Dalam diskusi filsafat politik modern, dua nama besar, Karl Popper dan John Rawls, menawarkan perspektif berbeda tentang toleransi yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi mendalam. Pandangan mereka, meski sama-sama membahas tentang pentingnya toleransi dalam masyarakat, memiliki perbedaan mendasar yang mencerminkan fokus dan pendekatan unik masing-masing pemikir. Karl Popper, dalam bukunya The Open Society and Its Enemies (1945), memperkenalkan gagasan paradoks toleransi . Ia berpendapat bahwa toleransi yang tidak memiliki batas justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Jika masyarakat sepenuhnya toleran terhadap pandangan yang intoleran, pandangan tersebut dapat tumbuh dan akhirnya menghilangkan toleransi itu sendiri. Oleh karena itu, Popper mengusulkan bahwa masyarakat harus bersikap tidak toleran terhadap intoleransi, terutama keti...

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan Helenisme adalah istilah yang menggambarkan budaya, bahasa, dan peradaban Yunani yang menyebar luas setelah penaklukan Alexander Agung (356–323 SM). Periode Helenistik dimulai setelah kematian Alexander Agung dan berlangsung hingga berdirinya Kekaisaran Romawi sekitar abad pertama SM. Masa ini ditandai oleh penyebaran tradisi Yunani ke berbagai wilayah, mencakup seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, serta pengaruhnya yang signifikan terhadap agama-agama di Timur Dekat, termasuk agama Yahudi dan Kristen awal. Helenisme memiliki beberapa ciri utama yang mencerminkan kebesarannya. Rasionalisme dalam filsafat Yunani menjadi salah satu karakteristik utamanya, dengan penekanan pada logika, akal budi, dan pencarian kebenaran universal. Pemikiran ini berkembang melalui aliran-aliran seperti Stoikisme, Platonisme, dan Aristotelianisme. Selain itu, bahasa Yunani, khususnya dialek Koine, menjadi lingua franca di seluruh wilayah kekuasaan Alexander Ag...