Aku nggak pernah berpikir akan sampai pada titik merasa muak melihat berita tentang pemerintahanku sendiri. Tapi hari demi hari, kekecewaan itu seperti ditumbuhkan secara sengaja. Bukan hanya karena kebijakan yang kadang terasa ngawur, tapi karena orang-orang yang membuat kebijakan itu sering kali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Para menteri yang seharusnya jadi tumpuan justru terlihat seperti tidak mengerti rumah yang sedang mereka rawat.
Aku kecewa. Bukan karena mereka manusia biasa yang bisa salah. Tapi karena mereka sering kali bukan orang yang tepat untuk posisi yang mereka duduki. Seolah-olah jabatan menteri hari ini bukan lagi soal kemampuan atau pengalaman, melainkan soal kedekatan, balas budi politik, atau pencitraan. Banyak dari mereka tidak punya rekam jejak di bidang yang mereka pimpin, dan itu terlihat jelas dari cara mereka mengambil keputusan.
Bagaimana mungkin menteri pendidikan tak paham dunia pendidikan? Bagaimana mungkin menteri komunikasi gagap dalam hal digitalisasi? Bagaimana mungkin menteri yang mengurus rakyat justru sibuk dengan urusannya sendiri?
Aku tahu tidak mudah memimpin negara sebesar ini. Tapi yang menyakitkan adalah ketika rakyat diminta untuk sabar, untuk percaya, sementara orang-orang di atas sana bermain-main dengan jabatan yang seharusnya penuh tanggung jawab. Kami ini bukan pion di permainan catur politik. Kami adalah manusia yang hidupnya terpengaruh langsung oleh keputusan-keputusan mereka.
Apa susahnya memilih orang yang benar-benar ahli di bidangnya? Apa terlalu sulit untuk meletakkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok?
Aku hanya ingin melihat negara ini dipimpin oleh orang-orang yang kompeten, yang paham persoalan dan mau belajar, yang sadar bahwa posisi mereka adalah amanah, bukan privilege semata. Karena selama orang-orang itu masih terus datang dari ruang yang salah, maka jangan salahkan rakyat jika kepercayaan mulai runtuh satu per satu.