Langsung ke konten utama

"Aku Kecewa: Negara Ini Butuh Pemimpin, Bukan Cuma Pengisi Kursi"

Aku nggak pernah berpikir akan sampai pada titik merasa muak melihat berita tentang pemerintahanku sendiri. Tapi hari demi hari, kekecewaan itu seperti ditumbuhkan secara sengaja. Bukan hanya karena kebijakan yang kadang terasa ngawur, tapi karena orang-orang yang membuat kebijakan itu sering kali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Para menteri yang seharusnya jadi tumpuan justru terlihat seperti tidak mengerti rumah yang sedang mereka rawat.

Aku kecewa. Bukan karena mereka manusia biasa yang bisa salah. Tapi karena mereka sering kali bukan orang yang tepat untuk posisi yang mereka duduki. Seolah-olah jabatan menteri hari ini bukan lagi soal kemampuan atau pengalaman, melainkan soal kedekatan, balas budi politik, atau pencitraan. Banyak dari mereka tidak punya rekam jejak di bidang yang mereka pimpin, dan itu terlihat jelas dari cara mereka mengambil keputusan.

Bagaimana mungkin menteri pendidikan tak paham dunia pendidikan? Bagaimana mungkin menteri komunikasi gagap dalam hal digitalisasi? Bagaimana mungkin menteri yang mengurus rakyat justru sibuk dengan urusannya sendiri?

Aku tahu tidak mudah memimpin negara sebesar ini. Tapi yang menyakitkan adalah ketika rakyat diminta untuk sabar, untuk percaya, sementara orang-orang di atas sana bermain-main dengan jabatan yang seharusnya penuh tanggung jawab. Kami ini bukan pion di permainan catur politik. Kami adalah manusia yang hidupnya terpengaruh langsung oleh keputusan-keputusan mereka.

Apa susahnya memilih orang yang benar-benar ahli di bidangnya? Apa terlalu sulit untuk meletakkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok?

Aku hanya ingin melihat negara ini dipimpin oleh orang-orang yang kompeten, yang paham persoalan dan mau belajar, yang sadar bahwa posisi mereka adalah amanah, bukan privilege semata. Karena selama orang-orang itu masih terus datang dari ruang yang salah, maka jangan salahkan rakyat jika kepercayaan mulai runtuh satu per satu.

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Saya Membela Hak Orang-orang LGBT?

Oleh :Fadhilrey Kenapa Saya Membela Hak orang-orang LGBT? Opini aku! Karena hal-hal yang menyinggung LGBT sangat sensitif di indonesia, saya menekankan bahwa sudut pandang dan pemikiran saya tentang LGBT ini sama sekali tidak berlandaskan pandangan Agama manapun. Saya tidak memakai pembenaran Agama dalam menyampaikan pandangan ini. jadi jika memang pandangan saya banyak sekali hal yang menyimpang menurut agama, itu murni karena pemahaman Agama saya yang mungkin masih dangkal dan belum luas.  pertama, sebagai seorang muslim, saya sama sekali tidak menganggap perbuatan LGBT adalah hal yang tidak dilarang oleh Hukum Agama. Perbuatan LGBT itu dilarang Oleh Agama Islam. bahkan sejauh yang saya tau ada tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang larangan perbuatan Homoseksual. dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 165-166, lalu dalam surat Al A’raf ayat 80, Surat Al Isra ayat 32, Surat Al A’raf ayat 33, Surat Hud ayat 181, Surat Asy-Syu’ara ayat 173-174, dan di Surat An Naml ayat 55. dari ayat-ay...

Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran?

  Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran? Perbedaan Pandangan Karl Popper dan John Rawls tentang Toleransi Dalam diskusi filsafat politik modern, dua nama besar, Karl Popper dan John Rawls, menawarkan perspektif berbeda tentang toleransi yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi mendalam. Pandangan mereka, meski sama-sama membahas tentang pentingnya toleransi dalam masyarakat, memiliki perbedaan mendasar yang mencerminkan fokus dan pendekatan unik masing-masing pemikir. Karl Popper, dalam bukunya The Open Society and Its Enemies (1945), memperkenalkan gagasan paradoks toleransi . Ia berpendapat bahwa toleransi yang tidak memiliki batas justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Jika masyarakat sepenuhnya toleran terhadap pandangan yang intoleran, pandangan tersebut dapat tumbuh dan akhirnya menghilangkan toleransi itu sendiri. Oleh karena itu, Popper mengusulkan bahwa masyarakat harus bersikap tidak toleran terhadap intoleransi, terutama keti...

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan Helenisme adalah istilah yang menggambarkan budaya, bahasa, dan peradaban Yunani yang menyebar luas setelah penaklukan Alexander Agung (356–323 SM). Periode Helenistik dimulai setelah kematian Alexander Agung dan berlangsung hingga berdirinya Kekaisaran Romawi sekitar abad pertama SM. Masa ini ditandai oleh penyebaran tradisi Yunani ke berbagai wilayah, mencakup seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, serta pengaruhnya yang signifikan terhadap agama-agama di Timur Dekat, termasuk agama Yahudi dan Kristen awal. Helenisme memiliki beberapa ciri utama yang mencerminkan kebesarannya. Rasionalisme dalam filsafat Yunani menjadi salah satu karakteristik utamanya, dengan penekanan pada logika, akal budi, dan pencarian kebenaran universal. Pemikiran ini berkembang melalui aliran-aliran seperti Stoikisme, Platonisme, dan Aristotelianisme. Selain itu, bahasa Yunani, khususnya dialek Koine, menjadi lingua franca di seluruh wilayah kekuasaan Alexander Ag...