Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) di Yogyakarta merupakan salah satu cabang Ahmadiyah yang berkembang di Indonesia, khususnya berpusat di daerah ini sejak awal abad ke-20. Berbeda dengan Ahmadiyah Qadian yang lebih dikenal di Indonesia, GAI lebih menekankan pendekatan rasional terhadap Islam dengan mengutamakan tafsir Al-Qur'an yang berbasis pada akal dan ilmu pengetahuan. Gerakan ini berakar pada pemikiran Mirza Ghulam Ahmad, seorang reformis Islam dari India yang mengklaim sebagai mujaddid (pembaharu) dalam Islam. Namun, GAI tidak menganggapnya sebagai nabi setelah Nabi Muhammad, melainkan sebagai sosok pembaharu yang menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni.
Di Yogyakarta, GAI memiliki pengaruh signifikan dalam bidang pendidikan dan pemikiran keislaman. Organisasi ini mendirikan berbagai lembaga pendidikan yang menekankan pembelajaran Islam yang inklusif, logis, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. salah satunya adalah GAI mendirikan lembaga pendidikan Piri. yang terdiri dari SMP, SMA, SMK, dan pesantren Piri yang berada di Jl. Kemuning I No.14, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225. GAI juga aktif dalam diskusi keagamaan dan menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok Islam lain dalam semangat toleransi. Meskipun ajaran dan pendekatan GAI sering berbeda dengan arus utama Islam di Indonesia, mereka tetap mempertahankan identitas sebagai bagian dari umat Islam dan menolak anggapan bahwa mereka keluar dari Islam.
Namun, keberadaan Ahmadiyah, termasuk GAI di Yogyakarta, tidak lepas dari tantangan. Sebagian kelompok Islam menganggap ajaran mereka kontroversial, terutama terkait pandangan mereka terhadap posisi Mirza Ghulam Ahmad. dalam beberapa tahun yang lalu, Komplek Pendidikan Puri yang juga di sana terdapat Kantor pusat dari GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) pernah di Serang oleh warga, yang pada ketika itu umat dari GAI sedang melaksanakan sebuah kegiatan, mereka mendemo dan meminta agar GAI dan sekolah Puri dibubarkan, karena menurut mereka ajaran Ahmadiyah adalah ajaran Islam yang menyimpang, kaca-kaca sekolah pada saat itu dipecahkan oleh demonstran, dan anak-anak yang tengah mengikuti acara mendapatkan trauma yang mendalam.
Dalam menghadapi peristiwa penyerangan terhadap Kompleks Pendidikan Puri, Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) mengambil sikap yang tenang dan bijaksana, mengedepankan prinsip perdamaian dan dialog. Alih-alih merespons dengan kemarahan atau tindakan balasan, GAI memilih untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesabaran, toleransi, dan kasih sayang. Mereka berusaha menenangkan para anggotanya, terutama anak-anak yang mengalami trauma, dengan memberikan pendampingan dan dukungan psikologis agar mereka dapat pulih dari pengalaman tersebut. GAI juga menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan kegiatan pendidikan dan dakwahnya secara damai, tanpa terprovokasi oleh kekerasan.
Selain itu, GAI berupaya merangkul masyarakat sekitar melalui pendekatan dialog dan sosialisasi yang lebih intensif. Mereka berusaha membuka ruang diskusi untuk menghilangkan kesalahpahaman terkait ajaran mereka, serta menjelaskan bahwa keberadaan mereka bukanlah ancaman bagi umat Islam lainnya. Dengan komunikasi yang terbuka dan sikap yang santun, GAI berharap dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dengan masyarakat sekitar. Mereka juga berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk memastikan perlindungan hukum terhadap hak mereka dalam beribadah dan berkegiatan secara damai.
Ke depan, GAI terus memperkuat misinya dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang berlandaskan akal, ilmu pengetahuan, dan kedamaian. Mereka tetap konsisten dalam membangun pendidikan yang inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat luas, tanpa membiarkan insiden tersebut menghambat perjuangan mereka. Sikap yang mereka tunjukkan dalam menghadapi insiden ini mencerminkan kedewasaan, kebijaksanaan, serta komitmen untuk menjunjung tinggi perdamaian dan toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia.
GAI tetap berupaya menjaga eksistensinya melalui pendidikan, dakwah berbasis intelektual, dan interaksi damai dengan masyarakat luas. Dalam konteks keberagaman Islam di Indonesia, GAI di Yogyakarta menjadi contoh bagaimana suatu kelompok dengan pemikiran berbeda tetap dapat berkembang dan berkontribusi dalam wacana keislaman serta kehidupan sosial.