Langsung ke konten utama

Melihat yang Tak Terlihat: Perempuan dan Lomba Kampus yang Maskulin.

Sebagai laki-laki yang aktif di kegiatan kampus, khususnya dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan. aku sering ikut terlibat kepanitiaan dalam berbagai lomba yang diselenggarakan jurusan, mulai dari futsal, Mobile Legends, sampai lomba-lomba yang bersifat fisik dan kompetitif. Tapi makin ke sini, aku mulai sadar ada yang janggal, yang awalnya mungkin tak banyak orang perhatikan: ke mana perempuan?

alasan yang pasti menurutku bukan karena mereka tidak mau ikut. Mereka ada, bahkan mereka ikut terlibat menjadi panitia. tapi ketika lomba berlangsung, mereka lebih sering jadi penonton, tim dokumentasi, Suporter, yang menyiapkan Minum dan konsumsi. atau bahkan hanya hadir karena diajak teman saja. Sangat jarang ada perempuan yang betul-betul ikut ambil peran dalam arena Lomba. Dan bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena sistem dan suasananya tidak memberi ruang.

aku melihat di kampusku, Lomba-lomba Unggulan yang digelar cenderung sangat maskulin. Futsal hampir selalu dianggap “lombanya cowok”. E-sport seperti Mobile Legends, meskipun seharusnya netral gender yah, tapi dalam praktiknya tetap didominasi laki-laki. dan bahkan dalam lomba seperti Futsal dan Mobile Legends, sama sekali tidak ada cabang untuk perempuan, yang dilombakan hanya untuk laki-laki saja. perempuan hanya bisa ikut lomba pelengkap saja, seperti Lomba Desain, Lomba menulis karya Ilmiah, lomba tilawah, dan lomba-lomba yang terkesan membosankan bagi Laki-laki. 

seolah-olah, lomba yang akan meriah dan seru adalah lomba yang diikuti oleh laki-laki, Lomba Utama adalah Futsal dan Mobile Legends. yang pesertanya Laki-laki. Perempuan?, jadi Penonton saja, atau yang menyiapkan Konsumsi, kalo mau ikut lomba, ikut lomba Desain atau menulis saja. cukup miris melihat realita yang terjadi di depanku.

Aku percaya kegiatan jurusan atau kampus seharusnya jadi ruang milik bersama. Tapi kalau hanya kelompok tertentu yang merasa bisa mengekspresikan diri, berarti ada yang harus kita evaluasi. Mengapa tidak ada lomba lain yang lebih inklusif? Mengapa tidak ada upaya menciptakan suasana yang lebih ramah dan kompetitif untuk semua?

Bukan berarti lomba futsal dan ML harus dihapus aku sendiri menikmatinya. Tapi aku yakin, perlu ada diversifikasi lomba. harus ada lomba yang ramah bagi semua Gender, laki-laki dan perempuan bisa terlibat dan ikut bersaing. seperti Lomba Badminton, perempuan dan laki-laki bisa bermain bareng dalam Ganda Campuran, menurutku sangat banyak opsi agar lomba-lomba yang diselenggarakan di kampus bisa ramah untuk semua Gender. 

Karena kampus bukan hanya tempat kuliah, tapi juga tempat tumbuh. Dan tidak ada yang benar-benar tumbuh jika sebagian dari kita terus merasa dipinggirkan.

Salam Hangat,

Fadhilrey

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Saya Membela Hak Orang-orang LGBT?

Oleh :Fadhilrey Kenapa Saya Membela Hak orang-orang LGBT? Opini aku! Karena hal-hal yang menyinggung LGBT sangat sensitif di indonesia, saya menekankan bahwa sudut pandang dan pemikiran saya tentang LGBT ini sama sekali tidak berlandaskan pandangan Agama manapun. Saya tidak memakai pembenaran Agama dalam menyampaikan pandangan ini. jadi jika memang pandangan saya banyak sekali hal yang menyimpang menurut agama, itu murni karena pemahaman Agama saya yang mungkin masih dangkal dan belum luas.  pertama, sebagai seorang muslim, saya sama sekali tidak menganggap perbuatan LGBT adalah hal yang tidak dilarang oleh Hukum Agama. Perbuatan LGBT itu dilarang Oleh Agama Islam. bahkan sejauh yang saya tau ada tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang larangan perbuatan Homoseksual. dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 165-166, lalu dalam surat Al A’raf ayat 80, Surat Al Isra ayat 32, Surat Al A’raf ayat 33, Surat Hud ayat 181, Surat Asy-Syu’ara ayat 173-174, dan di Surat An Naml ayat 55. dari ayat-ay...

Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran?

  Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran? Perbedaan Pandangan Karl Popper dan John Rawls tentang Toleransi Dalam diskusi filsafat politik modern, dua nama besar, Karl Popper dan John Rawls, menawarkan perspektif berbeda tentang toleransi yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi mendalam. Pandangan mereka, meski sama-sama membahas tentang pentingnya toleransi dalam masyarakat, memiliki perbedaan mendasar yang mencerminkan fokus dan pendekatan unik masing-masing pemikir. Karl Popper, dalam bukunya The Open Society and Its Enemies (1945), memperkenalkan gagasan paradoks toleransi . Ia berpendapat bahwa toleransi yang tidak memiliki batas justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Jika masyarakat sepenuhnya toleran terhadap pandangan yang intoleran, pandangan tersebut dapat tumbuh dan akhirnya menghilangkan toleransi itu sendiri. Oleh karena itu, Popper mengusulkan bahwa masyarakat harus bersikap tidak toleran terhadap intoleransi, terutama keti...

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan Helenisme adalah istilah yang menggambarkan budaya, bahasa, dan peradaban Yunani yang menyebar luas setelah penaklukan Alexander Agung (356–323 SM). Periode Helenistik dimulai setelah kematian Alexander Agung dan berlangsung hingga berdirinya Kekaisaran Romawi sekitar abad pertama SM. Masa ini ditandai oleh penyebaran tradisi Yunani ke berbagai wilayah, mencakup seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, serta pengaruhnya yang signifikan terhadap agama-agama di Timur Dekat, termasuk agama Yahudi dan Kristen awal. Helenisme memiliki beberapa ciri utama yang mencerminkan kebesarannya. Rasionalisme dalam filsafat Yunani menjadi salah satu karakteristik utamanya, dengan penekanan pada logika, akal budi, dan pencarian kebenaran universal. Pemikiran ini berkembang melalui aliran-aliran seperti Stoikisme, Platonisme, dan Aristotelianisme. Selain itu, bahasa Yunani, khususnya dialek Koine, menjadi lingua franca di seluruh wilayah kekuasaan Alexander Ag...