Kalau mau disebut dengan mahasiswa aktivis itu apakah harus demo pemerintah?
ini opini ku !
sebagai mahasiswa yang tahun ini akan menginjak semester lima, maka sudah tidak asing lagi dengan kalimat “mahasiswa itu harus menjadi aktivis”. seolah menjadi seorang aktivis adalah tolak ukur dalam melihat mahasiswa yang ideal. dan menurut saya tidak salah menjadi mahasiswa aktivis, malah sangat bagus, karena sudah semestinya kita sebagai mahasiswa harus menjadi garda terdepan bagi bangsa ini. jika mahasiswa yang notabene sebagai orang-orang terdidik, memilih untuk diam atau apatis, lalu siapa lagi yang akan membela kebenaran dan keadilan di negeri ini?.
namun yang sangat membuat saya kesal adalah adanya pengklasifikasian aktivis itu sendiri di lingkungan mahasiswa, khususnya di lingkungan kampus saya, menjadi mahasiswa aktivis itu berarti mereka yang ikut organisasi ekstra seperti masuk kelompok cipayung plus, PMII, HMI, GMNI dan yang lain. dan tentunya mahasiswa yang fokus dengan isu politik, mengkritis pemerintah, suka turun langsung ke jalan untuk demo. itulah ciri-ciri mahasiswa Aktivis. dengan penggambaran mahasiswa aktivis seperti itu, maka mahasiswa yang diluar dari ciri-ciri tersebut terkadang tidak dilihat seperti mahasiswa aktivis. padahal mereka pun bergerak dalam isu sosial. karena penggambaran mahasiswa aktivis itu adalah mereka yang suka mengkritik pemerintah, demo di jalan. maka mahasiswa yang aktif dalam pendidikan dengan mengajar, tidak dianggap sebagai aktivis, mahasiswa yang fokus dalam isu lingkungan, tidak dianggap sebagai mahasiswa aktivis, padahal mau yang fokus di isu politik, di isu pendidikan, di isu lingkungan, gender, agama dan apapun itu, selama mahasiswa tersebut bergerak untuk menjadi agen perubahan dalam isseunya masing-masing, maka mereka pantas disebut sebagai “Aktivis”.