Langsung ke konten utama

Kalau Mau Disebut Dengan Mahasiswa Aktivis Itu Apakah Harus Demo Pemerintah?

 

Kalau mau disebut dengan mahasiswa aktivis itu apakah harus demo pemerintah?

Oleh : Fadhilrey

ini opini ku !

sebagai mahasiswa yang tahun ini akan menginjak semester lima, maka sudah tidak asing lagi dengan kalimat “mahasiswa itu harus menjadi aktivis”. seolah menjadi seorang aktivis adalah tolak ukur dalam melihat mahasiswa yang ideal. dan menurut saya tidak salah menjadi mahasiswa aktivis, malah sangat bagus, karena sudah semestinya kita sebagai mahasiswa harus menjadi garda terdepan bagi bangsa ini. jika mahasiswa yang notabene sebagai orang-orang terdidik, memilih untuk diam atau apatis, lalu siapa lagi yang akan membela kebenaran dan keadilan di negeri ini?.

namun yang sangat membuat saya kesal adalah adanya pengklasifikasian aktivis itu sendiri di lingkungan mahasiswa, khususnya di lingkungan kampus saya, menjadi mahasiswa aktivis itu berarti mereka yang ikut organisasi ekstra seperti masuk kelompok cipayung plus, PMII, HMI, GMNI dan yang lain. dan tentunya mahasiswa yang fokus dengan isu politik, mengkritis pemerintah, suka turun langsung ke jalan untuk demo. itulah ciri-ciri mahasiswa Aktivis. dengan penggambaran mahasiswa aktivis seperti itu, maka mahasiswa yang diluar dari ciri-ciri tersebut terkadang tidak dilihat seperti mahasiswa aktivis. padahal mereka pun bergerak dalam isu sosial. karena penggambaran mahasiswa aktivis itu adalah mereka yang suka mengkritik pemerintah, demo di jalan. maka mahasiswa yang aktif dalam pendidikan dengan mengajar, tidak dianggap sebagai aktivis, mahasiswa yang fokus dalam isu lingkungan, tidak dianggap sebagai mahasiswa aktivis, padahal mau yang fokus di isu politik, di isu pendidikan, di isu lingkungan, gender, agama dan apapun itu, selama mahasiswa tersebut bergerak untuk menjadi agen perubahan dalam isseunya masing-masing, maka mereka pantas disebut sebagai “Aktivis”.


Postingan populer dari blog ini

Kenapa Saya Membela Hak Orang-orang LGBT?

Oleh :Fadhilrey Kenapa Saya Membela Hak orang-orang LGBT? Opini aku! Karena hal-hal yang menyinggung LGBT sangat sensitif di indonesia, saya menekankan bahwa sudut pandang dan pemikiran saya tentang LGBT ini sama sekali tidak berlandaskan pandangan Agama manapun. Saya tidak memakai pembenaran Agama dalam menyampaikan pandangan ini. jadi jika memang pandangan saya banyak sekali hal yang menyimpang menurut agama, itu murni karena pemahaman Agama saya yang mungkin masih dangkal dan belum luas.  pertama, sebagai seorang muslim, saya sama sekali tidak menganggap perbuatan LGBT adalah hal yang tidak dilarang oleh Hukum Agama. Perbuatan LGBT itu dilarang Oleh Agama Islam. bahkan sejauh yang saya tau ada tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang larangan perbuatan Homoseksual. dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 165-166, lalu dalam surat Al A’raf ayat 80, Surat Al Isra ayat 32, Surat Al A’raf ayat 33, Surat Hud ayat 181, Surat Asy-Syu’ara ayat 173-174, dan di Surat An Naml ayat 55. dari ayat-ay...

Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran?

  Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran? Perbedaan Pandangan Karl Popper dan John Rawls tentang Toleransi Dalam diskusi filsafat politik modern, dua nama besar, Karl Popper dan John Rawls, menawarkan perspektif berbeda tentang toleransi yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi mendalam. Pandangan mereka, meski sama-sama membahas tentang pentingnya toleransi dalam masyarakat, memiliki perbedaan mendasar yang mencerminkan fokus dan pendekatan unik masing-masing pemikir. Karl Popper, dalam bukunya The Open Society and Its Enemies (1945), memperkenalkan gagasan paradoks toleransi . Ia berpendapat bahwa toleransi yang tidak memiliki batas justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Jika masyarakat sepenuhnya toleran terhadap pandangan yang intoleran, pandangan tersebut dapat tumbuh dan akhirnya menghilangkan toleransi itu sendiri. Oleh karena itu, Popper mengusulkan bahwa masyarakat harus bersikap tidak toleran terhadap intoleransi, terutama keti...

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan Helenisme adalah istilah yang menggambarkan budaya, bahasa, dan peradaban Yunani yang menyebar luas setelah penaklukan Alexander Agung (356–323 SM). Periode Helenistik dimulai setelah kematian Alexander Agung dan berlangsung hingga berdirinya Kekaisaran Romawi sekitar abad pertama SM. Masa ini ditandai oleh penyebaran tradisi Yunani ke berbagai wilayah, mencakup seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, serta pengaruhnya yang signifikan terhadap agama-agama di Timur Dekat, termasuk agama Yahudi dan Kristen awal. Helenisme memiliki beberapa ciri utama yang mencerminkan kebesarannya. Rasionalisme dalam filsafat Yunani menjadi salah satu karakteristik utamanya, dengan penekanan pada logika, akal budi, dan pencarian kebenaran universal. Pemikiran ini berkembang melalui aliran-aliran seperti Stoikisme, Platonisme, dan Aristotelianisme. Selain itu, bahasa Yunani, khususnya dialek Koine, menjadi lingua franca di seluruh wilayah kekuasaan Alexander Ag...