Oleh :Fadhilrey
saya benci “Gender Stereotypes”
Opini Aku!
Pernah denger istilah “Gender Stereotypes”, sederhananya seperti kalau seorang laki-laki berarti dia harus suka warna merah, suka sepak bola. sedangkan kalau perempuan berarti harus suka warna pink, suka Boneka dan masak-masak. hal yang seperti itu dinamai dengan Gender Stereotype, atau penyederhanaan pandangan masyarakat dalam memahami apa itu Gender.
di dalam Gender Stereotype sayangnya perempuan sering kali digambarkan dengan hal yang berbau lemah, rapuh, lalu dapur, menguruds anak, berdandan, feminim dan masih banyak lagi, sedangkan laki-laki selalu digambarkan dengan kuat, tegar, tangguh, lalu maskulin, bekerja, mencari uang, suka hal-hal yang kasar, dan masih banyak lagi. karena ada penggambaran seperti itu, akhirnya jika ada perempuan atau laki-laki yang tidak sesuai dengan Gender Stereotypes nya, maka akan menjadi bahan cibiran atau bully-an masyarakat yang melestarikan pemikiran tersebut.
Gender Stereotype ini sangatlah berbahaya jika terus menerus di lestarikan dalam pemikiran masyarakat, karena bisa jadi hal-hal yang sebenarnya itu salah, tapi menjadi di benarkan karena ia seorang laki-laki, seperti pemukulan, KDRT, Poligami, dan hal-hal lainnya. karena Gender Stereotype, pemikiran “yaa kan dia laki-laki, gak papalah poligami, KDRT, Kan dia ketua dalam rumah tangga,”. sedangkan mungkin di pihak perempuan bernafas saja salah, karena pemikiran “ perempuan tuh gak boleh gini, gak boleh gitu, gak boleh melawan suami, dan gak boleh gak boleh yang lainnya”.
Gender Stereotypes juga menurut saya membuat seseorang menjadi tidak bebas dalam melakukan hal-hal yang sebenarnya wajar dilakukan. seperti laki-laki yang menangis, galau, atau melakukan pekerjaan rumah, laki-laki yang pakai skincare. karena hal-hal tersebut tidak sesuai dengan “semestinya” laki-laki lakukan menurut masyarakat, maka dia terlihat sebagai laki-laki yang “Lemah”. sebaliknya, perempuan yang mungkin senang melakukan hal-hal ekstrem, kuliah di jurusan teknik, bekerja full time, tidak mau menikah, tidak mau punya anak, dipandang aneh karena melawan kodrat Wanita yang dipahami oleh masyarakat.
padahal laki-laki tidak papa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh perempuan, dan sebaliknya. tidak papa laki-laki menjadi guru TK, mencuci piring, memakai skincare, dan perempuan yang bekerja itu wajar. tidak selamanya perempuan itu harus lemah, dan tergantung kepada laki-laki, dan laki-laki tidak harus menjadi yang kuat, dan menjadi dominan bagi perempuan.