Langsung ke konten utama

Memahami Keragaman di indonesia itu seperti Gado-Gado atau Salad Bowl?

 Memahami Keragaman di indonesia itu seperti Gado-Gado atau Salad Bowl?.

Kalau Indonesia Adalah Makanan, Kira-kira Makanan apa yah?

jika kita bertanya kepada penduduk indonesia, mau itu anak kecil atau Kakek Nenek sekalipun, mereka pasti menggambarkan indonesia itu sebagai Negara yang beragam, baik dari segi budaya, agama, etnis, maupun bahasa. Dengan lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di seluruh nusantara, Indonesia adalah rumah bagi ratusan kelompok etnis dan lebih dari 700 bahasa daerah. Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan budaya yang unik, mulai dari adat istiadat, tarian, musik, hingga pakaian tradisional yang berbeda-beda. jika kita menggambarkan keragaman di indonesia ini menjadi makanan, kira-kira makanan apa yang cocok menggambarkan indonesia?. 

sebelum itu, baru-baru ini Keberagaman Bangsa kita telah dicederai oleh BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang melarang anggota Paskibraka di Istana Negara IKN menggunakan Hijab bagi yang Muslim. tentunya hal itu menjadi perbincangan publik sekaligus protes dari masyarakat. BPIP berdalih bahwa itu sudah menjadi aturan berpakaian dalam paskibraka sekaligus pengaplikasian Semboyan Bhineka Tunggal Ika.

kalau kasus ini kita gambarkan kedalam makanan, BPIP melihat keragaman di indonesia ini seperti Gado-gado. didalamnya memang beragam jenis makanan, dari sayuran, telur, tahu, dan masih banyak lagi, tapi semua makanan yang beragam itu jika ingin disatukan, maka harus disiram dengan bumbu kacang agar bisa disebut sebagai gado-gado. bumbu kacang yang kita anggap sebagai alat untuk membuat semuanya menjadi sama ini lah yang mencederai keberagaman di dalam gado-gado. 

sementara menurut saya, seharusnya kita melihat keberagaman di indonesia ini seperti Salad Bowl, atau salad dalam mangkuk. tidak ada penyeragaman agar makanan yang ada di dalam mangkuk disebut sebagai salad Bowl.

teori ini dicetuskan oleh Horace Kallen. pada hal ini teori salad bowl menjelaskan bahwa perbedaan budaya pada suatu Negara tidak hilang. akan tetapi perbedaan ini di akomodir sehingga menciptakan keragaman yang akhirnya perbedaan ini turut membentuk budaya Nasional Negara tersebut.

seperti layaknya semangkuk salad, sayur dan kondimen lain itu diibaratkan seperti Budaya yang saling melengkapi, mengisi, dan membentuk mangkuk salad yang diibaratkan Negara itu sendiri.


Postingan populer dari blog ini

Kenapa Saya Membela Hak Orang-orang LGBT?

Oleh :Fadhilrey Kenapa Saya Membela Hak orang-orang LGBT? Opini aku! Karena hal-hal yang menyinggung LGBT sangat sensitif di indonesia, saya menekankan bahwa sudut pandang dan pemikiran saya tentang LGBT ini sama sekali tidak berlandaskan pandangan Agama manapun. Saya tidak memakai pembenaran Agama dalam menyampaikan pandangan ini. jadi jika memang pandangan saya banyak sekali hal yang menyimpang menurut agama, itu murni karena pemahaman Agama saya yang mungkin masih dangkal dan belum luas.  pertama, sebagai seorang muslim, saya sama sekali tidak menganggap perbuatan LGBT adalah hal yang tidak dilarang oleh Hukum Agama. Perbuatan LGBT itu dilarang Oleh Agama Islam. bahkan sejauh yang saya tau ada tujuh ayat Alquran yang menjelaskan tentang larangan perbuatan Homoseksual. dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 165-166, lalu dalam surat Al A’raf ayat 80, Surat Al Isra ayat 32, Surat Al A’raf ayat 33, Surat Hud ayat 181, Surat Asy-Syu’ara ayat 173-174, dan di Surat An Naml ayat 55. dari ayat-ay...

Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran?

  Paradoks Toleransi Apakah kita harus toleransi kepada orang yang intoleran? Perbedaan Pandangan Karl Popper dan John Rawls tentang Toleransi Dalam diskusi filsafat politik modern, dua nama besar, Karl Popper dan John Rawls, menawarkan perspektif berbeda tentang toleransi yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi mendalam. Pandangan mereka, meski sama-sama membahas tentang pentingnya toleransi dalam masyarakat, memiliki perbedaan mendasar yang mencerminkan fokus dan pendekatan unik masing-masing pemikir. Karl Popper, dalam bukunya The Open Society and Its Enemies (1945), memperkenalkan gagasan paradoks toleransi . Ia berpendapat bahwa toleransi yang tidak memiliki batas justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Jika masyarakat sepenuhnya toleran terhadap pandangan yang intoleran, pandangan tersebut dapat tumbuh dan akhirnya menghilangkan toleransi itu sendiri. Oleh karena itu, Popper mengusulkan bahwa masyarakat harus bersikap tidak toleran terhadap intoleransi, terutama keti...

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan

Helenisme dan Pengaruhnya Terhadap Kekristenan Helenisme adalah istilah yang menggambarkan budaya, bahasa, dan peradaban Yunani yang menyebar luas setelah penaklukan Alexander Agung (356–323 SM). Periode Helenistik dimulai setelah kematian Alexander Agung dan berlangsung hingga berdirinya Kekaisaran Romawi sekitar abad pertama SM. Masa ini ditandai oleh penyebaran tradisi Yunani ke berbagai wilayah, mencakup seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, serta pengaruhnya yang signifikan terhadap agama-agama di Timur Dekat, termasuk agama Yahudi dan Kristen awal. Helenisme memiliki beberapa ciri utama yang mencerminkan kebesarannya. Rasionalisme dalam filsafat Yunani menjadi salah satu karakteristik utamanya, dengan penekanan pada logika, akal budi, dan pencarian kebenaran universal. Pemikiran ini berkembang melalui aliran-aliran seperti Stoikisme, Platonisme, dan Aristotelianisme. Selain itu, bahasa Yunani, khususnya dialek Koine, menjadi lingua franca di seluruh wilayah kekuasaan Alexander Ag...